Monday, August 26, 2019

Perawatan Tracheostomy beserta Risiko Komplikasi yang dapat Terjadi


Perawatan Tracheostomy. Tracheostomy (trakeostomi) adalah prosedur yang dilakukan untuk menangani situasi gawat darurat pada penderita penyakit yang tergolong parah. Tujuan utama dari prosedur ini ialah untuk mempertahankan jalan napas. Meskipun begitu, prosedur ini juga memiliki risiko komplikasi, baik selama maupun setelah prosedur trakeostomi dilakukan.

Trakeostomi juga dikenal dengan istilah stoma. Pada dasarnya, masalah kesehatan yang membutuhkan prosedur trakeostomi umumnya berhubungan dengan gangguan pada saluran pernapasan, dengan harapan dapat membantu penderita agar bernapas dengan baik. Prosedur ini biasanya dilakukan pada kondisi darurat medis maupun pada penyakit tertentu yang menyebabkan terhambatnya jalan napas atau gagal napas. Kondisi tersebut merupakan kondisi yang serius dapat membahayakan nyawa apabila tidak segera ditangani. Maka dari itu, trakeostomi dilakukan untuk membantu dan menjaga agar proses pernapasan dapat berjalan dengan baik sebagai penunjang kelangsungan hidup pasien.

Trakeostomi merupakan prosedur pembedahan (operasi) atau pembuatan lubang yang dilakuakn pada batang tenggorokan (trakea), melalui sayatan pada kulit leher bagian depan dengan bantuan anestesi (pembiusan) umum, sehingga dapat dijadikan akses langsung bagi tabung pernapasan.

Tabung pernapasan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam lubang yang dibuat di bagian teggorokan, tepatnya di bawah pita suara. Kemudian udara akan masuk melalui tabung menuju paru-paru. Dengan begitu, pasien akan bernapas melalui tabung ini, bukan melalui hidung ataupun mulut.

Baca Juga : 4 Gejala yang Dialami Penderita Batu Ginjal

Kondisi yang Membutuhkan Perawatan Trakeostomi

Berikut ini beberapa kondisi kesehatan yang membutuhkan prosedur trakeostomi :

  • Penyakit paru obstruksi kronis (PPOK).
  • Gangguan saluran pernapasan kongenital atau kelainan bawaan.
  • Disfungsi diafragma.
  • Koma.
  • Adanya luka di saluran pernapasam akibat menghirup bahan korosif.
  • Luka di dingding dada.
  • Luka bakar atau operasi besar pada bagian wajah.
  • Luka pada laring (laringektomi).
  • Infeksi berat.
  • Penyumbatan pada saluran pernapasan akibat benda asing atau tumor.
  • Sleep apnea (apnea tidur) yang menyebabkan jalan napas tersumbat.
  • Kondisi medis yang memerlukan bantuan pernapasan atau ventilator yang berkepanjangan, seperti lumpuh.
  • Kelumpuhan otot yang berfungsi untuk menelan.
  • Kelumpuhan pita suara
  • Cedera leher atau mulut yang parah.
  • Syok anafilatik, yang dapat menyebabkan kehilangan kesadaran hingga kematian.
  • Kanker leher.
Selain berguna untuk memudahkan jalan napas, prosedur trakeostomi juga dilakukan untuk alasan-alasan lain, yaitu :
  • Agar saluran pernapasan lebih mudah dibersihkan dan juga sebagai saluran pembuangan cairan yang berasal dari paru-paru.
  • Agar alur jalan pernapasan alternatif yang mengelilingi atau melalui jalur yanng tersumbat agar oksigen tetap dapat mencapai paru-paru.
  • Sebagai penghubung antara organ pernapasan dengan mesin pembantu pernapasan mekanik (ventilator) jangka panjang.

Risiko Komplikasi Trakeostomi

Meskipun dapat membantu kelangsungan hidup seseorang, prosedur trakeostomi dapat meninggalkan bekas luka setelah tabung diangkat. Selain itu, pasien yang melakukan prosedur ini juga tak lepas dari risiko komplikasi trakeostomi. Diantaranya adalah :

  • Infeksi.
  • Pendarahan.
  • Adanya jaringan parut pada trakea.
  • Krusakan kelenjar tiroid yang berada di leher.
  • Kebocoran atau gagal fungsi paru-paru.
  • Gangguan fungsi menelan dan vokal.

https://lingshenyao.id/obat-kista-ovarium/
Disqus Comments